PRABUMULIH – Publik Kota Nanas mendadak geger. Bukan karena prestasi, melainkan karena aroma busuk dugaan penimbunan BBM ilegal yang kian menyengat di depan hidung aparat. Ironisnya, di tengah keresahan warga yang dihantui risiko ledakan, jawaban Kasatreskrim Polres Prabumulih, AKP Jhon Kenedy S.H., justru dianggap “hambar” dan memicu spekulasi liar.

Respons “Lagi banyak gawe” di Tengah Bara Api

Alih-alih menyalakan sirine penggerebekan, pernyataan AKP Jhon Kenedy saat dikonfirmasi awak media terkait laporan gudang BBM ilegal tersebut justru melontarkan jawaban ‘lagi banyak gawe’ memicu tanda tanya besar. Sikap yang dinilai defensif dan kurang proaktif ini seolah menjadi bensin yang menyiram api kecurigaan publik: Ada apa dengan Polres Prabumulih?

Masyarakat mempertanyakan, mengapa laporan yang sudah di depan mata seolah hanya dianggap angin lalu? Apakah regulasi kini kalah oleh hegemoni mafia minyak, ataukah ada “tembok tebal” yang melindungi aktivitas tersebut?

Nyawa Warga Taruhannya

“Kami tidak butuh jawaban diplomatis, kami butuh rasa aman!” cetus seorang warga dengan nada geram. Aktivitas keluar-masuk tangki misterius setiap hari bukan sekadar soal kerugian negara, tapi soal nyawa. Bayang-bayang tragedi kebakaran hebat akibat penimbunan BBM ilegal kini menghantui permukiman warga.

GPP Sumsel: Jangan Sampai Institusi Tergadai “Setoran”

Gempuran desakan juga datang dari Gabungan Pemuda Peduli (GPP) Sumsel. Mereka mendesak transparansi total. Isu miring mengenai dugaan “setoran” dari mafia minyak kepada oknum aparat kini mulai berhembus kencang. Jika polisi terus bungkam atau bertindak lamban, jangan salahkan jika masyarakat menilai integritas korps Bhayangkara di Prabumulih sedang dipertaruhkan.

“Jika memang bersih, sikat! Jika dibiarkan, publik berhak bertanya: Siapa yang kenyang di balik bisnis haram ini?” tegas salah satu aktivis GPP Sumsel.

Ujian Nyali Kapolres

Kini, bola panas ada di tangan Polres Prabumulih. Apakah mereka akan bertindak sebagai pelindung rakyat dengan meratakan gudang ilegal tersebut, atau justru membiarkan spekulasi “pembiaran” ini menjadi noda hitam yang sulit dihapus?

Masyarakat Prabumulih tidak butuh retorika. Mereka menunggu bukti nyata: Garis polisi di gerbang gudang, atau mosi tidak percaya dari rakyat.(JS)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page