BANYUASIN – Institusi Kejaksaan Negeri Banyuasin mendadak gempar dan tercoreng akibat ulah memalukan salah satu oknum staf Pidsus-nya berinisial RJ. Bukannya menegakkan hukum, RJ diduga kuat menggunakan “tangan besi” kekuasaannya untuk mengintimidasi aktivis LSM dengan skenario Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang berbau rekayasa dan intimidasi premanisme.

Memakai Seragam Untuk Tameng Keluarga?

Ironi luar biasa terjadi saat RJ, yang seharusnya menjadi garda terdepan pemberantasan korupsi, justru diduga menjadi “anjing penjaga” untuk menutupi temuan anggaran honor guru di SDN 19 Betung yang dipimpin oleh ibu kandungnya sendiri. Persekongkolan jahat ini tercium saat RJ membawa rombongan Bidang Pidsus ke ruang Sekdis Pendidikan dan berteriak “OTT” layaknya pahlawan kesiangan, tanpa bukti sepeser pun!

Gagal Menjebak, Terbitlah Jurus Blokir!

Setelah skenario “Jebakan Batman” uang 4 juta rupiah tersebut gagal total karena tidak terbukti, RJ kini menunjukkan mentalitas pengecut. Saat dikonfirmasi, ia hanya bisa merengek meminta berita tidak dinaikkan dengan dalih “damai kekeluargaan”.

Siapa yang berdamai? Dan atas dasar apa institusi negara dibawa-bawa untuk urusan pribadi?

Sikap RJ yang memblokir kontak wartawan semakin mempertegas adanya “udang di balik batu”. Tindakan ini bukan sekadar masalah komunikasi, melainkan bentuk nyata alergi terhadap transparansi dan penghinaan terhadap profesi jurnalis yang dilindungi undang-undang.

Kejari Banyuasin Dalam Sorotan: Reformasi atau Melindungi Oknum?

Publik kini menuntut keberanian Kajari Banyuasin untuk mencopot dan memeriksa RJ serta gerombolannya yang terlibat dalam aksi memalukan di kantor Dinas Pendidikan tersebut. Jika tindakan “koboi” berseragam ini dibiarkan, maka Kejari Banyuasin tak lebih dari sekadar sarang oknum yang menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi.

“Jangan Diberitakan!” teriak RJ. Namun maaf, kebenaran tidak bisa dibeli dengan kata damai yang dipaksakan!

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page